Siswa Sering Bolos Dikeluarkan Sekolah, Orang Tua Ngamuk

0
502
Orangtua siswa saat melakukan mediasi dengan pihak sekolah (Image : Dadang/Koran Sindo)

Tak terima anak – anak mereka dikeluarkan oleh pihak sekolah, sejumlah warga dan orangtua siswa Dusun Bantar, Desa Sukaharja, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis,  mendatangi SMK Galuh Rahayu untuk mempertanyakan nasib anak-anak mereka.

Siswa yang dikeluarkan berjumlah 4mpat siswa, antara lain Rafik Kusumah (17), Hoirul Irfansyah (17), Gerhana (17), dan Arif (17). Keempatnya dikeluarkan oleh pihak sekolah dengan alasan mereka sering membolos sekolah.

Yogi Permadi yang bertindak sebagai perwakilan warga dan orang tua siswa menuturkan, kedatangan mereka ke sekolah untuk mempertanyakan status siswa yang menurut pengakuan dari anak-anak tersebut telah dikeluarkan dan dikembalikan kepada orangtuanya.

Yogi berpendapat siswa harus tetap mendapatkan haknya untuk bersekolah dan mengenyam pendidikan di sekolah.

“Setelah kami melakukan audiensi, ternyata alasan dari pihak sekolah anak bersangkutan tingkat kehadirannya kurang, untuk itu kami bersama tokoh masyarakat akan memberikan pengertian kepada siswa bersangkutan,” katanya, Selasa (1/12/2015).

Salah seorang siswa yang dikeluarkan Rafik Kusumah (17) mengatakan, dia dikeluarkan lantaran tidak masuk sekolah selama satu minggu, karena sering kesiangan masuk sekolah.

“Saya jarang masuk sekolah karena kalau kesiangan suka dipukul, jadi saya tidak masuk sekolah. Kalau masuk sekolah juga tidak pernah diabsen,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum Dr Enjan Suryana mengatakan, siswa dikeluarkan sudah mendatangani perjanjian beberapa kali, dan telah ditegur oleh pihak sekolah supaya tidak membolos.

“Siswa bukan dikeluarkan, tapi dititipkan kembali ke orangtua karena sekolah sudah tidak sanggup. Mereka masih tercatat siswa kami, mereka tetap bisa ikut ujian sekolah,” ungkapnya.

Terkait pengakuan siswa tentang adanya pemukulan yang dilakukan oleh guru kepada siswa yang kesiangan atau terlambat, Enjang membantahnya. Menurutnya tidak ada sekalipun guru menampar atau memukul murid. Namun yang dilakukan bukan pemukulan, melainkan candaan kepada siswa.

“Kami tahu anak-anak dilindungi, kami tidak demikian, tapi selalu mengayomi,” pungkasnya.

There are no comments yet

× You need to log in to enter the discussion