Eks Pidana Membuka Sekolah untuk Anak-anak Teroris

0
2412
Pesantren Darusy Syifa. (Tribun Medan/Array A Argus)


Ketika seorang teroris dihukum dan melayani waktunya atau dibunuh dalam aksi, apa yang terjadi pada istri dan anak-anaknya?

Pertanyaan sederhana ini merupakan salah satu tantangan deradikalisasi yang sedang dihadapi oleh pemerintah karena tidak dapat menutup mata terhadap anggota keluarga yang mungkin telah terkena nilai radikal.

Khairul Ghazali, seorang mantan teroris yang terlibat dalam perampokan Bank CIMB Niaga di Medan, Sumatera Utara, telah mendirikan pesantren untuk mengumpulkan anak-anak dari anggota kelompok militan dan mendidik mereka.

Sekolahnya, Darusy Syifa, baru-baru ini ditunjuk sebagai model untuk sekolah seperti yang telah menjadi bagian dari program deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Khairul mengatakan ia tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa pesantren dia yang bernama Darusy Syifa akan menarik perhatian BNPT, terutama karena ketika membangun sekolah tersebut dia tergerak oleh keprihatinannya atas nasib anak-anak pengungsi dari mantan teroris yang orangtuanya dipenjara.

“Ketika para teroris ditangkap, anak-anak dan istri-istri mereka tidak diperhatikan. Ini adalah apa yang menggerakan saya untuk membangun pesantren untuk mendidik anak-anak teroris dimana negara cenderung mengabaikan pendidikan mereka, “kata Khairul ke The Jakarta Post pada hari Jumat.

Dia mengatakan pesantren itu fasilitas pendidikan yang dirancang khusus untuk mencegah radikalisme berkembang, sementara pada saat yang sama menawarkan pendidikan kepada anak-anak dari narapidana teroris.

Dia mengatakan kecuali anak-anak ini mendapatkan pendidikan, dikhawatirkan bahwa mereka akan mengikuti jejak orang tua mereka dan menjadi teroris.

Khairul mengatakan hingga saat ini, 20 anak-anak dari mantan teroris pernah belajar di pesantren itu, selain dari 12 orang lain yang berasal dari keluarga tidak berkecukupan.

Sekitar 20 adalah anak-anak dari teroris yang terlibat dalam serangan terhadap kantor polisi Hamparan Perak di Deli Serdang, perampokan CIMB Bank Medan dan pelatihan di kamp teroris di Jantho Aceh.

Dia mengatakan beberapa teroris masih dipenjara. Beberapa orang lain telah dibebaskan, termasuk Jumirin alias Sobirin, yang sekarang bekerja sebagai nelayan di Tanjungbalai.

Khairul mengatakan dia kenal semua orang tua dari anak-anak para teroris. Dia mengatakan tidak banyak yang masih aktif dalam kegiatan radikal.

“Saya tidak tahu di mana mereka sekarang karena komunikasi kami telah terputus,” katanya, menambahkan bahwa sebagian dari mereka yang masih aktif dalam kegiatan teroris berasal dari Medan dan Aceh.

Dia mengatakan pesantren Darusy Syifa setara dengan tingkat SMP. Semua siswa belajar di sana dibebaskan dari biaya sekolah. Pesantren menanggung semuanya, termasuk makanan dan akomodasi mereka, serta untuk honor lima guru.

“Saya membayar itu semua; tanpa bantuan dari luar, “kata Khairul, menambahkan bahwa biaya operasional dia harus membayar adalah antara Rp 10 juta dan Rp 12 juta per bulan.

Ia mengatakan bahwa ia menggunakan uang yang diperolehnya dari kolam ikan dan perkebunan sayur dia di sekitar pesantren, serta dari royalti dari buku-buku yang ditulisnya.

“Saya menghabiskan Rp 150 juta untuk membangun pesantren ini,” kata Khairul.

Pesantren Darusy Syifa Islam terletak di Kecamatan Sei Mencirim, Deli Serdang, Sumatera Utara, pada lahan 30 hektar milik PT Perkebunan Nusantara II. Secara resmi dibuka oleh Gubernur Sumatera Utara pada 11 Juni.

AZA, 13, salah satu siswa, mengaku senang untuk belajar di pesantren, meskipun ia baru masuk selama satu bulan oleh rekomendasi dari ayahnya Jumirin alias Sobirin, yang baru saja dibebaskan dari penjara pada Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, pada bulan Agustus.

“Ayah saya membawa saya ke pesantren ini,” kata AZA.

Kepala Kombes BNPT kepala, Jenderal Suhardi Alius mengatakan bahwa ia berharap masyarakat tidak akan mengucilkan anak-anak mantan teroris, melainkan merangkul mereka dan memberi mereka pemahaman tentang bahaya radikalisme.

“Sekolah ini adalah model yang akan kita copy di tempat lain. Ada beberapa potensi daerah kantong radikal di mana daerah tersebut akan menjadi prioritas kami untuk membangun pesantren yang sama, “kata Suhardi saat upacara peletakan batu pertama pembangunan sebuah masjid di Darusy Syifa.

 

Polisi Sulawesi Tenggara Kepala Brig. Jenderal Rudy Sufahriadi, yang juga hadir pada acara peletakan batu pertama, mengatakan bahwa ia berencana untuk membangun pesantren dengan konsep yang sama dengan pesantren di Poso untuk program deradikalisasi di wilayah tersebut.

“Ini adalah bentuk penanganan teroris di bidang pendidikan,” kata Rudy.

There are no comments yet

× You need to log in to enter the discussion