Anak – Anak Mereka Jadi Sarjana Berkat Arisan

1
1209
Ilustrasi

Para orang tua di Desa Alor Besar, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini patut diacungi jempol. Tingginya biaya pendidikan di negeri ini tak lantas membuat mereka kehilangan akal dan patah semangat untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka setinggi mungkin.

Untuk mengakali kebutuhan sekolah putra – putrinya, merek membentuk kelompok arisan pendidikan yang mereka namakan “Bunga Bara”. Arisan yang mereka rancang bukan seperti arisan kebanyakan dimana uang dikumpulkan dari semua anggota arisan, dan ada masanya uang itu dibagikan kepada anggota arisan yang beruntung.

Karena namanya arisan pendidikan, dana yang dikumpulkan hanya bisa digunakan khusus untuk pembiayaan sekolah anak-anak. Terutama anak – akan mereka yang akan bersekolah di sekolah menengah umum atau perguruan tinggi.

Ketua kelompok arisan Bunga Bara, Suhardi Djou mengatakan, kelompoknya telah berdiri sejak Juli 2009. Pada awalnya mereka adalah sebuah kelompok tani yang beranggotaan 10 orang. Salah satu kegiatannya adalah arisan pembangunan rumah.

Seiring berjalannya waktu, munculnya tuntutan biaya pendidikan keluarga, muncul ide mereka untuk membentuk arisan pendidikan. Arisan ini lantas berkembang kemudian berjalan dan beranggotakan 25 kepala keluarga.

Program airsan pendidikan di desa ini, menjadikan Desa Alor Besar dipilih menjadi salah satu piloting Desa Ramah Perempuan (DRP) yang digagas Konsorsium PT Global Concern dan Komite Pemantau Legislatif (Kopel) atau disingkat KGCK. Ada enam desa seluruhnya yang menjadi piloting program ini. Desa lainnya adalah Desa Borokanda dan Rando Tonda di Kabupaten Ende,  serta Desa Pon Ruan dan Desa Golo Ndele di Kabupaten Manggarai Timur.

Suhardi mengatakan, ide membentuk arisan pendidikan ini adalah untuk membantu sebagian biaya dari keperluan sekolah anak-anak mereka. “Kita keluarga yang kurang mampu, kita buat arisan ini supaya anak-anak bisa sekolah, tidak ada yang kita berikan lebih untuk anak-anak kami. Arisan ini juga sebagai motivasi untuk anak-anak lebih semangat bersekolah dan menghargai usaha orang tua,” ujar Suhardi di Jakarta, Senin (23/11/2015).

Metode untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan uang bukan dengan cara undian, tapi dengan bergiliran tergantung siapa anggota yang anaknya masuk sekolah SMA atau kuliah.

Arisan pendidikan Bunga Bara ini boleh berbangga karena sudah mampu melahirkan empat orang sarjana dari empat keluarga anggota arisan ini.

Tidak ada syarat-syarat tertentu untuk mengikuti arisan ini selain hanya komitmen saja. Keanggotaannya terbuka pada siapa saja anggota masyarakat di Desa Alor Besar yang ingin ikut. Namun, sebagian besar anggota arisan ini adalah kepala keluarga dengan pekerjaan utama petani dan tukang batu dan tukang kayu yang berekonomi lemah.

“Dana yang diberikan sesuai dengan kesepakatan anggota yaitu setiap bulannya Rp 100 ribu per kepala keluarga,” ujarnya.

Sebelumnya, di desa itu banyak anak-anak yang putus sekolah karena keterbatasan biaya dan kurangnya peranan orang tua. Menurut Anwar Razak, Fasilitator Kopel di Kabupaten Alor, NTT, Arisan yang mereka bentuk ini sampai sekarang masih berjalan lancar dan baik-baik saja. “Tidak ada permasalahan antar anggota kelompok arisan ini. Bahkan mereka saling memotivasi agar anak-anak mereka tidak ada yang putus sekolah di tengah jalan,” ujarnya.

One comment

× You need to log in to enter the discussion